Dengan menggunakan data dari pengorbit bulan Chandrayaan-1 Indian Space Research Organization (ISRO), dua peneliti dari Brown University menemukan sesuatu yang diperkirakan telah lama hilang, yaitu air di permukaan bulan. Tapi jangan berharap untuk pergi berenang dalam waktu dekat, air tersebut terjebak dalam batu.

Para peneliti secara khusus berfokus pada batu piroklastik (batuan vulkanik). Sampel yang diambil dari Apollo 15 dan 17 menunjukkan limpahan air terperangkap di kaca “manik-manik” dalam batu.

Shuai Li, seorang mahasiswa pascasarjana memberitahu bahwa airnya tidak berbentuk es, namun terjebak dalam mineral. Li juga masih mencoba untuk menentukan apakah sebenarnya air tersebut hidrogen dioksida atau hidroksil, senyawa serupa yang terbuat dari satu atom hidrogen dan satu atom oksigen terionisasi. Entah itu air atau hidroksil.

Tidak ada bukti bahwa temuan ini terkait dengan endapan es. Tapi air atau hidroksil tidak berasal jauh di dalam bawah permukaan bulan. “Air ini ada di dalam kaca dan berasal dari dalam bagian dalam bulan”.

Airnya mungkin terjebak dalam batuan bulan, tapi bukan berarti kita tidak bisa menggunakannya. “Tanda air yang terlihat pada endapan piroklastik memiliki implikasi yang signifikan untuk eksplorasi bulan di masa depan,” kata Li. “Air seperti itu bisa digunakan sebagai sumber daya.”

Jadi sepertinya mungkin kita bisa mengambil cadangan air disitu untuk pangkalan bulan di masa depan.