Dunia mencoba untuk menghentikan penggunaan dari bahan bakar fosil yang semakin menipis. Sangat penting bagi kita untuk menguranginya sebanyak mungkin dalam beberapa dekade mendatang. Sebagian besar fokus telah ditempatkan pada sumber energi terbarukan seperti matahari dan angin, tapi itu tidak menghasilkan apapun. Untuk itu, kita memerlukan solusi yang berbeda, yaitu biofuel.

Saat ini, kebanyakan biofuel terbuat dari minyak jagung dan kedelai, yang harganya mahal untuk tumbuh dan dipanen. Ini berarti biofuel berjuang untuk bersaing dengan bahan bakar fosil. Para ilmuwan telah mencoba untuk menemukan alternatif yang baik untuk tanaman ini selama bertahun-tahun, dan menemukan salah satu kemajuan pada alga.

Alga memiliki sejumlah keunggulan dibanding jagung dan kedelai, mereka dapat tumbuh lebih cepat, tahan dalam berbagai kondisi, dan lebih mudah panen. Satu-satunya masalah adalah alga tidak menghasilkan cukup lemak dan minyak untuk membuatnya layak sebagai biofuel, jadi sekelompok peneliti menggunakan rekayasa genetika untuk mengakalinya.

Periset, dari Institut J Craig Venter, menghabiskan delapan tahun mencoba memanipulasi genom beberapa spesies alga yang berbeda. Pada sebuah konferensi, Venter sendiri berbicara tentang proyek tersebut dan mengumumkan bahwa tim tersebut akhirnya berhasil. Mereka akhirnya bisa mengubah produksi lebih dari dua kali lipat jumlah minyak yang bisa dihasilkan alga.

Bagian yang paling menantang dari penelitian ini adalah mengidentifikasi gen yang tepat untuk mengendalikan jumlah minyak yang akan dihasilkan alga. Mereka menemukan caranya dengan mengurangi kadar nitrogen pada alga, yang menyebabkan mereka menghasilkan lebih banyak minyak. Melalui berbagai macam kegagalan, mereka akhirnya berhasil mengidentifikasi gen yang cocok, sebuah regulator disebut ZnCys, yang berhasil dari sekitar 20 kandidat gen.

Kemudian, dengan menggunakan metode pengeditan gen CRISPR, mereka menggunakan gen ini untuk memaksa alga menghasilkan lebih banyak minyak. Hasilnya dramatis, alga biasa hanya bisa menghasilkan sekitar 10 sampai 15 persen minyak, namun versi modifikasinya bisa menghasilkan 40 persen!.

Tetapi, itu tidak berarti biofuel berbasis alga akan mengganti minyak di mobil kamu dalam waktu dekat. Tim masih memiliki banyak pekerjaan kedepannya sebelum teknologi ini benar-benar siap dipasarkan. Bisa bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun sebelum kita bisa mulai menggunakan biofuel berbasis alga ini secara komersial, namun berkat penelitian ini, kita membuat langkah besar untuk merealisasikan hal tersebut.